May 21, 2012

Penipuan Seminar Dibiayai Dirjen Dikti

Kamis 31 Desember 2009, sehabis olahraga, saya lagi mengerjakan target akhir tahun yang masih tersisa sedikit, mengedit gambar-gambar buat buku yang harus diselesaikan. Tiba-tiba ada telepon dari nomor 08154212526x yang ngakunya pegawai dari departemen pendidikan nasional. Bapak kami undang untuk ikut seminar Kewirausahaan di hotel borodubur jakarta senin 11/12 jan 2010. Dan sekarang ditunggu oleh bpk kopertis buat konfirmasi kesediaan bapak, karena  tempat duduknya terbatas. Sambil ngasih nomor hp pak Prof. Abdul Halim (Kopertis Jabar). Sebenarnya ngak terlalu percaya karena, ngak biasanya pegawai pemerintah telp pake hp. Cuma mau tes juga, apa memang iya, lagian memang tertarik juga tuh ikut seminar Kewirausahaan.

Pas ditelpon. pak Abdul Halimnya jelasin panjang lebar soal program seminarnya. Suara pak Halim itu khas dan saya masih bisa ingat kalau itu memang suara beliau. Soalnya beberapa bulan yang lalu beliau sempat datang ke UNAI dan kasih seminar buat para dosen-dosen. Dan saya pun percaya kalau ini memang pak Halim. Kemudian pak Halimnya kasih nomor regirstrasi 150/9998787/2010. Sambil dikasih tahu kalau biayanya semua dari Dikti dan dilarang pakai uang yayasan. Dananya ngak tanggung-tanggung 10 juta. Beliau kemudian menyuruh saya siapin no rek BNI dan untuk pencairannya hubungi aja pak Fasli Jalal (dirjen Dikti) di nomor 021-xxxxx dengan ext xxx, katanya nomor Diknas di jakarta. Tapi waktu mau mengakhiri pembicaraan dengan sangat buru-buru dia bilang … kalau ngak hubungi aja ke nomor pribadi pak Fasli Jalal-nya, soalnya dia harus rapat, nanti keburu rapat dengan menteri sambil diberi no 0817xxx. Dalam hati, nomor dirjen kok gampang banget ya diobral begini.

Kemudian saya telpon lagi pak Fasli Jalal-nya. Sayang saya ngak pernah dengan pak Jalal ngomong, jadi ngak tahu itu suara beliau atau bukan, tapi saya yakin itu suara sudah ditiru juga. Dia pun bertanya, sudah dapat nomor Regristrasinya? waktu saya bacaain, dijawab.. oh ini peserta terakhir ya. Oke pak saya mau rapat dengan menteri pak Moh. Nuh nih, bapak sudah siapin no rek. Saya pun bacain. OKE pak ya, sekarang bapak atm saya akan transfer sekarang dan bapak harus cek langsung, supaya nanti saya ada laporan ke menteri. soalnya kan ini menyangkut kas negara. Mendengar itu… langsung Ting…….. LOE PENIPU.

Tapi sudah kepalang basah, sekalian pengen tahu juga nih gimana cara mereka menipunya (sekedar baut bahan cerita lah ama anak-anak di kelas). Saya pun langsung ke ATM yang berjarak 200 meteran dari rumah. namun sebelum ke ATM, titip kartu atm Mandiri ke Istri, cuma sekedar jaga-jaga (karena dengar2 katanya bisa di hipnotis). Di atm langsung cek saldo, ada beberapa juta lagi, sisa-sisa gaji 13 yang tak seberapa. Transfer ke rekening yang lain di Mandiri dan tersisa lah Rp 156.000,-. Dan sekarang siap menghadapi si penipu itu.

Tarik nafas sebentar buat menenangkan diri, kemudian saya telpon lagi si penipunya. Bapak, sudah di atm. Oke pak saya sudah siap. Aksi pun dimulai

(Beginilah kira-kira percakapan di ATM itu).

Penipu (P): Masukin kartu bapak.

Korban (K): sudah pak.

P: pilih bahasa Indonesia

K: OKE pak.

P: masukin PIN

K: Oke pak, sudah.

P: sekarang pilih cek saldo?

K: Oke pak.

P: berapa terbaca di layar, soalnya kalo terlalu sedikit nanti transaksinya ngak bisa.

K: 150 jutaan pak…

P: Oke pak, kita mulai pak ya… bapak harus cepat-cepat, karena ini harus bersama-sama.

K: Oke pak….

P: Pilih transfer..

K: Oke pak transfer..

P: Pilih ke bank BNI.

K: oke pak ke bank BNI

Di layar muncul pesan: Masukkan nomor rekening tujuan..

P: masukkan nomor PIN nya pak. Ini nomor PIN nya: 018xxx xxx.

K: Oke pak 018 xxx xxx, sudah pak, (biasanya disini memang korban ngak sadar kalau dia masukin nomor rek penipu)

Di layar kemudian muncul: Masukkan jumlah yang ingin anda transfer:

P: Masukkan nomor referensi pak: tekan 9 tujuk kali (lagi-lagi korban dikecoh, jumlah uang dibilang nomor referensi).

K: nomor referensi apa nih pak (pura-pura nanya sambil mikir… gila juga nih penipu mo nguras uang gw)… akhirnya korban pun mengetik 10.000,-. Maksudnya sih supaya nama pemilik rekening ketahuan.

P: Itu no referensi dari kami pak… supaya tahu nanti pas kliringnya. bapak harus cepat-cepat. nanti transaksinya gagal nih.

K: OK pak. tekan 9 tujuh kali.

Di layar pun muncul:

Apakah anda benar mau mentransfer:

Asal No rek. : No rek korban

Tujuan: no rek penipu

Nama Penerima: Ibu xxx

Jumlah : rp 10.000,-

P: oke Pak tekan ya atau benar

K: (mikir: rugi juga nih duit gw 10.000, akhirnya dia tekan tidak) oke pak sudah.

P: apa pesan di layarnya pak?

K: Transaksi berhasil katanya pak… (sambil tertawa dalam hati, gw tipu loe…..)

Proses dia atas diulang sampai 4 kali…. waktu proses yang ke 4 si korban sudah duduk di pos Satpam dan pura-pura masih ada di ATM.

Setelah itu, penipu pun minta supaya kartu dikeluarin dan kertas sobekan transaksi disobek kecil-kecil dengan alasan kerahasiaan uang negara. dan minta supaya kartu nya jangan dipake buat sementara karena akan mengganggu kliring.

Korban pun protes… nanti kalau saya butuh uang gimana dong pak …. mendengar itu penipu pun semangat lagi. Kalo gitu bapak ke atm lagi… dan mulai lagi memandu untuk mentransfer uang ke nomor bni yang berbeda… korban pun hanya duduk saja di pos satpam itu sambil mencatat nomor rekening diberikan penipu…

Begitulah proses penipuan itu berlangsung. Saya sangat salut kepada penipu karena sudah pakai alat-alat yang canggih sehingga bisa meniru suara orang lain, yang dimata saya memiliki ke khasan yang sebenarnya ulit ditiru. Dan ngak heran ada banyak orang yagn ketipu, kalau memang tidak hati-hati dan buta teknologi.

Beberapa hal yang perlu disadari:

1. Atm memang dapat dilakukan untuk mentransfer uang, tetapi tidak perlu dilakukan bersama-sama. Dan urusan uang masuk atau tidak, itu tidak ada peran dari si penerima uang. Jadi jangan mau dituntun ke atm untuk menerima uang.

2. Bacalah apa perintah di layar ATM, dan tidak mendengarkan instruksi dari orang lain. Jangan pernah mau diinstruksikan untuk melakukan apapun di atm baik langsung maupun via telepon.

3. jangan percaya dengan mudah, kalau itu ada yang ngaku atasan, ponakan, tante, yang menelepon anda, apa lagi kalau itu nomor yang bukan anda kenal, dan ujung-ujungnya minta anda mentransfer uang.

4. Jika anda diiming-imingi dapat hadiah, dan sebagainya… cerita lah kepada orang yang anda percaya punya kapabilitas, kompeten dan pengalaman dalam bidang tersebut meskipun penipu minta anda tidak cerita siapapun. Pilih mana, percaya pada orang yang baru anda kenal, yang bisa saja penipu atau percaya pada orang yang sudah anda kenal selama ini.

Beberapa trik dari penipu yang saya pelajari:

1. Selalu buru-buru, seolah-olah ingin cepat selesai, maksudnya supaya korban tidak bisa berpikir jernih.

2. Menggunakan istilah-istilah teknis yang korban tidak terlalu paham. Istilah teknis tersebut juga sebenarnya tidak digunakan dengan tepat oleh si penipunya.

3. Minta pada korban untuk tidak cerita kepada orang lain dengan alasan ini rahasia negara dll semacamnya.

Batang Korek Api Pengganjal ATM

Gue hari ini baca email yang enggak enak, dan kayaknya yang kayak gini ini musti disebar luasin deh biar banyak orang tahu dan gak ngalamin hal yang sama. Berikut ini adalah kutipan sebuah email curhat tentang penipuan di sebuah ATM, semoga ini gak terjadi pada kita semua. Hati-hati ya…

Peristiwa ini menimpa saya Hari Minggu yang lalu di salah satu ATM Mandiri (sebut saja ATM1). Semoga tidak terulang pada pembaca.

Kejadian ini berawal ketika saya mau menarik uang di ATM Mandiri. Seperti kadang-kadang terjadi setelah saya masukkan kartu ATM, layar ATM menyatakan bahwa …..out of service atau ….maaf sementara tidak dapat melayani. Tentu saja saya langsung tekan tombol Cancel untuk membatalkan transaksi. Namun ternyata kartu ATM tidak kunjung keluar walaupun saya ulangi berkali kali dan saya tunggu.
Di saat saya berharap kartu ATM segera keluar, tiba-tiba ada seseorang laki-laki (sebut saja Mr X) yang membuka pintu ATM dan tindakan kurang etis ini tentu agak mengejutkan saya. Orang tersebut yang tampil dengan sikap dan wajah innocent (tanpa dosa) dan dengan cukup santai bertanya: Bisa Pak? Kartu saya tadi tertelan pak! Karena merasa senasib, sikap saya berubah dari curiga menjadi welcome. Setelah saya amati, ternyata kartu saya tampak sedikit (kurang lebih satu millimeter) di bibir lobang kartu ATM dan saya berusaha dengan menyelipkan dua kartu tipis untuk menjepit kartu tersebut agar dapat saya keluarkan. Usaha saya itu mendapat respon yang bersahabat dari Mr X dan segera pula ia membantu saya untuk menjepit dengan kertas yang saya gunakan tetapi kartu ATM saya juga tidak berhasil dikeluarkan.
Usaha berikutnya dilakukan oleh Mr X dengan menelpon “Bank” (katanya saya telpon bank saja pak, 14000 ya? tanyanya dan tidak saya jawab karena saya konsentrasi dengan usaha saya untuk mengeluarkan kartu ATM). Setelah dia menceritakan apa yang telah terjadi dan salah satu ungkapannya di telepon “kartu saya terganjal oleh bapak setelah saya pak!”. Mr X segera menyerahkan HPnya karena pihak “Bank” mau bicara dengan saya. Pihak “Bank” setelah menanyakan beberapa data seperti nama, tanggal lahir, nama ibu kandung segera menuntun saya agar dapat mengeluarkan kartu ATM saya dan tentu saja saya turuti.
Tekan tombol di bawah angka 9; tekan tombol di bawah angka 7; tekan pin bapak; tekan ENTER. Keluar tidak pak? tanyanya. Tidak, jawab saya. Ok pak saya akan bantu sekali lagi mengeluarkan kartu bapak. Ikuti petunjuk saya tekan tombol di bawah angka 9; tekan tombol di bawah angka 7; tekan pin bapak (pelan-pelan pak) dan saya sempat berpikir mengapa harus pelan?; tekan ENTER. Singkatnya saya menekan PIN saya sampai sekitar tiga kali yang disaksikan oleh Mr. X. Saya tidak sampai hati meminta Mr X keluar dari ruang ATM karena ia telah meminjami HP dan “menolong saya”.
Adegan ini berarkhir ketika pihak “Bank” tidak berhasil membantu saya dengan mengatakan: Ok pak, karena kartu bapak tidak bisa keluar, KARTU BAPAK SAYA BLOKIR SAJA DAN SAAT INI KARTU BAPAK SUDAH TIDAK BERFUNGSI. Besuk bapak segera ke Bank Mandiri setempat untuk minta terbitkan kartu baru. Karena merasa aman, saya segera tinggalkan ruang ATM dengan mengucapkan terima kasih kepada Mr. X setelah anak saya segera keluar dari mobil, menyusul ke ruang ATM menanyakan apa yang terjadi (kata saya: kartu sudah diblokir, kita pindah ATM lain saja nak).
Untungnya saya tidak menaruh semua telor saya dalam satu keranjang. Masih ada keranjang lain tidak peduli ukurannya. Segera saya menuju ATM (sebut saja ATM2) yang lain karena saya sudah ditunggu di salah satu toko untuk suatu transaksi. Sebelum saya (bersama isteri dan anak saya) masuk ke ATM2 tiba-tiba SMS banking masuk dan menyatakan rekening saya terdebet Rp 1.500.000,-. Ketika itu saya baru sadar (menurut saya bukan karena hipnotis, tetapi logis) bahwa MR X TADI TERNYATA PENIPU dan pihak “Bank” yang bicara dengan saya adalah anggota sindikatnya.
Segera saya menuju ATM1 dengan melanggar lampu merah di perempatan jalan sambil menghampiri Polantas setempat. Sampai di tempat kejadian, tentu saja pelaku sudah kabur dan selama saya menuju kembali ke ATM1, rekening saya selalu terdebet hampir setiap setengah menit Rp 1,5 juta dan berkali-kali. Saya berusaha keras untuk memblokir via 14000 tetapi selalu dijawab oleh mesin penjawab dan setelah sekian lama saya baru bisa bicara dengan operator untuk melakukan pemblokiran. Apa boleh buat saat pemblokiran saldo tinggal tersisa Rp 82 ribu.
Setelah dihubungi oleh pihak kepolisian, tidak lama berselang petugas ATM Bank Mandiri datang dan membongkar mesin ATM. Ternyata di dalam ruang kartu masuk telah diselipkan SEBATANG KOREK API yang telah dipotong “pentolan” nya. Kata petuga bank: Inilah pak yang membuat kartu bapak tidak bisa masuk….kejadian ini sudah sekitar satu tahun tapi pelakunya belum juga tertangkap…. Dia (Mr X) bisa mengeluarkan kartu bapak dengan tang/penjepit kecil…..Minggu lalu juga kejadian.
Begitu memasuki hari kerja saya laporkan ke Bank Mandiri dan petugas Customer Service menyatakan kasus ini baru pak (wah rupanya pihak bank ketinggalan juga, red) setelah dicek transaksi penarikan (oleh Mr X cs) tiga kali Rp1,5jt; 1xRp500rb; dan karena maksimum penarikan per hari Rp5jt, sisanya dihabiskan untuk belanja kilat (mungkin di toko emas) tentu dengan memalsukan tanda tangan saya. Maaf pembaca, total kehilangan tidak perlu saya beberkan semua, yang jelas tinggal Rp82rb alias habis dalam waktu transaksi 17 menit.